16/07/2016

DIY: Strategi #3 - Tiga Cara Melatih KREATIVITAS (´▽`) - c<ˇ εˇ): Karena Hari Gini Wajib Kreatip!

Karena nggak pingin lupa, saya tulis ini. Bermanfaat banget soalnya! Maklum otak kadang nggak sanggup kalau suatu waktu perlu rewind terlalu jauh ke belakang. Hehe.



Salah satu kantor tempat saya pernah magang belum lama ini mengadakan sebuah workshop seharian penuh dengan aneka aktivitas seru. Salah satu agendanya menghadirkan seorang bernama Rahaf Harfoush, seorang wanita inspiratif asal Perancis yang hari itu bicara sebagai founder dari organisasi 'think tank' temuannya yang bernama "Red Thread Inc.". Temanya tentang teknologi, inovasi dan kreativitas. Menarik, sangat menarik. Ada bagian yang 'nyantol' banget di kepala saya dan sekali lagi, karena nggak pingin lupa, saya tulis ini. ┌(_o_)┐

Zaman sekarang adalah eranya 'Architech' (wiiih, istilah baru nih, not architect alias arsitek loh; jadi kalau coba di-Indo-in: Arsitekno) - maksudnya banyak banget individu dan organisasi yang memberdayakan teknologi untuk mengembangkan produk/jasa secara inovatif dan memiliki nilai tambah. Contoh yang menarik: LearnVest (software pintar buat bantu kelola keuangan pribadi), Smarter Stand (cover tablet yang bisa ditekuk-tekuk) dan M-PESA Safaricom (jasa transfer duit pake hape di Kenya tanpa perlu punya akun bank dan handphone-nya bahkan nggak perlu yang canggih).

Semua ini tentunya lahir dari kreativitas. Eits, dilarang sedih. Kabar baiknya, kreativitas bisa dilatih loh. Hmm... ralat!! Bukan bisa dilatih, tapi tepatnya "perlu dibiasakan". Naaah... Harfoush sempet share tiga kebiasaan yang harus kita miliki supaya makin hari kita jadi makin kreatif, sebagai berikut:

1. Spot Opportunity (sadari kesempatan yang ada!): kita harus mencari sumber baru. Kita nggak akan menemukan inovasi kalau kita hanya baca hal-hal yang ada di lingkup industri kita. Misalnya Anda seorang koki dan rajin menggali hanya soal industri makanan. Itu baik, tapi ada yang lebih baik lagi kalau Anda mau dapat ide segar: melihat dan belajar hal-hal di luar industri makanan.

Contohnya Anda belajar dari para drug dealers atau jaringan narkoba! Wuah, terdengar nyimpang banget tapi banyak loh yang kita bisa pelajari dari mereka. Coba renungkan gimana mereka bisa sukses pasarin narkoba, manage risiko, atur harga jadi mahal, pertahanin customer, dsb. Bisnis besar itu!

2. How You Create Ideas and Connect Them to the Problem (selama ini gimana cara Anda menghasilkan ide dan menghubungkannya ke masalah yang ada): kita harus membuat serangkaian daftar ide, jangan cuma satu ide saja. Terlalu sering orang berhenti pada satu ide karena melihatnya sudah cukup baik untuk menjawab masalah yang ada. Selalu pikir lagi, dan keluarkan setidaknya lima buah ide, kemudian vote mana yang terbaik.

Contoh yang bisa diterapin untuk individu/kelompok supaya kaya akan ide: setiap hari kumpulkan bawahan Anda dan minta mereka untuk menuliskan 10 ide top dalam 2 menit - get your timer ready (misalnya tuliskan 10 hal yang bisa diperbaiki dalam divisi Anda). Topiknya bisa yang lebih santai juga, misalnya tuliskan 10 cara agar tetap segar setelah makan siang atau 10 cara mengurangi kemacetan. Awalnya pasti hanya ada sedikit orang yang bisa tulis 10 ide dalam 2 menit, tapi semakin sering dilakukan, semakin banyak orang yang sukses tulis 10 ide dalam 2 menit.

Contoh lain (ini saya pernah dengar dari pembicara lain): melakukan sesuatu dengan cara berbeda. Pembicara tersebut pernah suruh anaknya jalan kaki mundur ke sekolah. Wuaah, nekat! Tapi konsepnya boleh ditiru ini. Coba deh besok-besok ke kantor atau ke sekolah lewat jalan lain. Jangan-jangan ada jalan yang lebih cepat atau lebih aman daripada jalan yang Anda biasa lalui sekarang. Coba sikat gigi pakai tangan kiri. Coba buat tugas sambil berdiri (atau jongkok sekalian, heh) daripada duduk. Selalu cari cara baru, evaluasi dan bandingkan dengan cara sebelumnya, lalu terapkan yang paling efektif dan efisien. Pasti jadi kreatif kalau membiasakan mikir cara baru tiap hari.


3. How You Share Ideas (selama ini gimana cara Anda menyampaikan ide): ini juga harus dilatih. Kita harus berlatih menyampaikan pendapat (yes, ini bisa dilatih)! Jangan sampai di dalam kepala isinya seru banget, tapi tidak bisa komunikasikan ke orang. Selain itu, apakah Anda yakin bahwa selama ini orang memahami maksud yang Anda sampaikan? Ada caranya niih, jadi misalnya tiap hari kita kumpul, lalu wajibkan setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Setiap satu orang selesai menyampaikan opininya, suruh semua orang lainnya dalam kelompok itu untuk tulis ulang maksud omongan orang tersebut. That way, orang yang berbicara itu bisa baca dan renungkan apakah orang lain sebetulnya mengerti maksud omongannya.

Oh ya, satu lagi! Kita juga perlu belajar cara kasih feedback. Setiap kali ada pendapat orang yang nggak sesuai sama pendapat kita, jangan sanggah pake kata "TAPI", sebaliknya pakailah kata "IYA, DAN...". Memakai kata "DAN" akan mendorong seseorang untuk menambahkan kalimatnya dan mengembangkan idenya tersebut.


EmoticonEmoticon